collapse

* Recent Posts

“Jangan Tiru Yang Keliru” by sang_surya
[October 15, 2014, 02:17:48 PM]


Siaran Pers RSA Indonesia: Hasil Survey Tentang Keselamatan di Jalan by lucky_012
[September 30, 2014, 10:45:12 AM]


Polisi Indonesia Siapkan Mata Elektronik E Cross by lucky_012
[September 30, 2014, 10:32:34 AM]


Bikers Rapatkan Barisan di Cibinong by lucky_012
[September 30, 2014, 10:27:27 AM]


Absen orang balikpapan dan sekitarnya babak ke-2 by siliwangi
[September 06, 2014, 09:12:10 AM]

* Who's Online

  • Dot Guests: 20
  • Dot Hidden: 0
  • Dot Users: 0

There aren't any users online.

Author Topic: kawah ijen yuk  (Read 5136 times)

pandora_151

  • Member Resmi
  • Gold Member
  • *
  • Posts: 2308
  • SECRET AGENT
kawah ijen yuk
« on: June 19, 2009, 11:01:51 AM »
  • Publish
  • Kawah Ijen            

    1
    2
    3
    4
    5
    (16 votes) Pemandangan spektakular pada ketinggian 30,000ft dari jendela sebelah kiri pesawat Surabaya-Denpasar melahirkan sebuah pertanyaan tentang lokasi sebuah danau berwarna hijau tosca di ketinggian 2,000-an meter. Danau tsb sepertinya berada didalam kawah dengan dinding kaldera setinggi 300-500m. Sebuah puncak gunung menjulang berada disampingnya. Asap putih yang mengepul dari salah satu kawahnya membumbung tinggi ke udara, menjadikannya kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berwarna hijau jade. Kawah tsb. ternyata bernama kawah Ijen, terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Spot ini pernah dipublikasikan dan terkenal di Perancis melalui Tayangan Ushuwaia Adventure yang memperlihatkan Nicolai Hulot sang-penjelajah, duduk diatas perahu karet bercerita ttg asal-usul danau Ijen dengan derajat keasaman nol, memiliki kedalaman 200 meter. Keasamannya cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari jemari. Pandangan bird view kamera helikopter itu kemudian beralih ke tepi kaldera yang memperlihatkan penambang2 kawah ijen sedang berjuang mendaki memikul puluhan kilogram muatannya.

    Kawah Ijen ternyata mudah untuk dikunjungi melalui Banyuwangi atau Bondowoso. Keunikan yang utama dari wisata Kawah Ijen selain dari pada panoramanya yang sangat indah adalah melihat penambangan belerang tradisional yang diangkut dengan cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia saja (Welirang dan Ijen). Beban yang diangkut masing-masing per orangnya sampai seberat 85kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, manakala belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam dan 800m menuruni gunung sejauh 3km. Penghasilan yang diterima seorang pemikul rata-rata 25 ribu rupiah per harinya, atau sekitar 300 rupiah per kilonya. Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan. Beberapa ratus meter terdapat sebuah bangunan bundar kuno peninggalan Belanda bertuliskan “Pengairan Kawah Ijen”, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar, sebuah pos dimana para penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.

    Perjalanan wisata ke kawah Ijen, dimulai dari Paltuding 1,600 mdpl, sebuah pos Perhutani di kaki gunung Merapi- Ijen. Dari sini jalan tanah menanjak ke ketinggian 2,400m dpl dengan waktu tempuh 2 jam jalan santai. Sepanjang perjalanan banyak berpapasan dengan pemikul belerang yang ramah bertukar salam. Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan berada di depan mata. Sebuah danau hijau tosca dengan diameter 1 km berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Penambang-penambang belerang terlihat kecil dari atas. Untuk menuju ke sumber penghasil belerang tsb., kita perlu menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang dilalui penambang. Sapu tangan basah sangat diperlukan, karena seringkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan.

    Didasar kawah, sejajar dengan permukaan danau terdapat tempat pengambilan belerang. Asap putih pekat keluar menyembur am pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Lelehan 600oC fumarol berwarna merah membara meleleh keluar dan membeku karena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang.

    Terkadang bara fumarol menyala tak terkendali, yang biasanya segera disiram air untuk mencegah reaksi piroporik berantai. Batu-batuan belerang ini dipotong dengan linggis dan diangkut kedlm keranjang. Bernapas dlm lingkungan spt. ini dibutuhkan perjuangan tersendiri, para penambang umumnya bekerja sambil menggigit kain sarung atau potongan kain seadanya sebagai penapis udara.

    Selain langsung menuju muka danau, berkeliling kaldera dpt dilakukan dengan memakan waktu kurang lebih seharian penuh. Pendakian ke kawah Ijen umumnya disarankan dimulai pada pagi hari. Demi alasan keamanan, pendakian ke kawah ijen dari Paltuding ditutup selepas pukul 14:00, karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian. Untuk mengejar perjalanan di pagi hari, pengunjung disarankan menginap di lokasi terdekat di Bondowoso, kota pegunungan yang bersih, atau di Situbondo sebuah kota pantai. Jika anda menyukai suasana perkebunan, tempat yang berkesan untuk bermalam adalah Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Guest house ini terletak didalam kompleks perumahan perkebunan pada ketinggian sekitar 1,200 mdpl. Selain itu juga tersedia Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding. Temparature rata-rata di sekitar kawah Ijen adalah 13 oC di siang hari dan 2 oC di malam hari.

    Untuk mencapai kawah Ijen saat ini tidaklah terlalu sulit. Terdapat dua cara, pertama melalui kota Banyuwangi sejauh 38 km ke barat melalui Licin, Jambu, Paltuding (1,600 mdpl). Cara kedua orang adalah melalui kota Bondowoso ke timur melalui Wonosari, Sempol (800 mdpl), Paltuding sejauh 70 km. Cara kedua ini paling banyak ditempuh orang karena melalui jalan aspal mulus, sedangkan cara pertama melalui jalan makadam dengan tanjakan yang cukup curam. Turis asing selepas kunjungan di Bromo biasanya datang melalui Bondowoso, kembali melalui Banyuwangi, terus ke Bali dan Lombok.

    Rute dari Bondowoso ini melalui daerah terbatas areal perkebunan kopi, dengan tiga pintu gerbang yang berbeda. Di setiap pintu gerbang kita diminta untuk mengisi buku tamu dan tujuan perjalanan. Pemandangan di rute ini sangat bagus, dengan kebun kopi arabikanya yang hijau teratur, hutan pinus Perhutani dan hutan perawan Cagar Alam Ijen-Merapi yang lebat. Kunjungan singkat satu hari dapat dilakukan, namun bermalam di perkebunan kopi adalah pilihan yang tepat. Tersedia paket agro-wisata mengunjungi kebun kopi dan unit pemrosesan biji kopi yang patut dipertimbangkan.

    Penulis : kang_fathur
    Fotografer : Archiaston Musamma
    Lokasi : Banyuwangi
    Sumber : navigasi.net

    pandora_151

    • Member Resmi
    • Gold Member
    • *
    • Posts: 2308
    • SECRET AGENT
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #1 on: June 19, 2009, 11:07:36 AM »
  • Publish
  • Kawah Ijen: What Planet Is This?

    Don’t look for Ijen in the travel guides. Nowadays on Java you have to go further (290 kilometers south of Surabaya) to find the truly intriguing phenomena. As well as being an awesome geographic wonder, this high country region is also one of Indonesia’s premier agro-tourism destinations.
     
    Made up of six volcanic peaks from 1200 to 3050 meters high, the whole eastern end of Java is dominated by the high and seldom-visited Ijen Plateau. Though dormant now, in 1817 Ijen erupted disastrously, wiping out three villages. It last blew its top in 1952.  This one-of-a-kind plateau offers savanna landscapes, rugged panoramas, cool weather, tree-sentinelled country roads, grand hiking and a outerworldly bright yellow-green crater lake.
     
    The Ijen Crater
     
    July-August are the best months to make the climb. Try to reach the top before 11 a.m. when the crater starts to cloud over. Serious climbers leave the Arabica Homestay in Jampit II at 4 a.m. for the 20 minute ride up to Paltuding so they can reach the crater in time for sunrise. You need to either join a tour or hire a jeep (Rp150,000, five people, six hours).
     
    At Paltuding, the entrance fee is Rp1500 for Indonesians and as much as Rp15,000 for foreigners. From the parking lot, a well-maintained trail twists up to the rim, passing gnarly burnt trees, everlasting edelweiss and Herculean barefoot bearers of sulfur.
     
    It’s a stiff 1.5 hour climb with some steep sections, but quite manageable if you’re in average shape. After an hour, you reach a sulfur collecting station and a kantin where they sell sodas (Rp1500 for Indonesians, as much as Rp10,000 for foreigners).  There’s the usual graffiti, but not the obscene trash that desecrates the landscape of many of Indonesia’s noblest volcanos such as Bali’s Catur and northern Sumatra’s Sibayak.
     
    Just 30 minutes from the top, the trail mercifully flattens out all the way to the crater lip as you’re assaulted by evil-smelling sulfur. The crater is filled with a unique and haunting green lake - the largest (20 hectare) vetra-acid lake in the world.   On the rim ghostly figures trudge silently past, slabs of bright yellow sulfur sticking out of their woven baskets. It feels like you’re waiting for the boatman to cross the River Styx, not really knowing what’s coming next or how close the abyss.
    From the edge, you need to descend another 30 minutes down a dilapidated stairway to the lake’s surface for the best vantage point and to get the best photos.
     
    The placid surface is streaked with globules of sulfur and eerie, pale yellow-green clouds. This strange wind-blown fog, particularly thick near the edge of the lake, suddenly appears above the water as if to welcome the crater’s guests.  Local folklore claims the fog, which disappears and reappears, seems to sense the arrival of each visitor. This same all-enveloping fog will almost certainly reappear when you take your leave.
     
    Sulfur Mining
     
    A continuous upwelling of sulfur from fumaroles at the level of the lake is the basis of a thriving enterprise. Pure hot red sulfur, oozing out of hissing fissures, turns bright yellow as it dries. It’s then broken up into big chunks with hammers and loaded into baskets carried by human beasts of burden down the trail to the collection point near Paltuding.
     
    The sulfur gatherers carry their loads in two baskets balanced on a pikulan pole made of bambu ampel, the strongest and most pliable bamboo available. Loads weigh up to 50-70 kilos. The bearers receive Rp350 per kilo from the cooperative. Take-home is pay is Rp40,000 to 50,000 per day.  Nine to 12 tons of sulfur are delivered each day. A natural source of sulfuric acid, the sulfur is used by oil refineries and in the production of detergents and fertilizers. These sturdy carriers also work as guides and can be hired for Rp20,000-Rp30,000 for half a day.
     
    Getting there from Bondowoso
     
    Jampit II can be reached by car (even sedans) or by hitching a ride on small open-bed passenger trucks from Bondowoso which wind up through majestic pine and causarina forests full of sonorous bird and insect sounds. Send the car up ahead and get out and walk. After 20 kilometers, the endless rolling coffee plantations begin, interspersed with cabbage patches.
     
    At the guardpost, register and pay Rp500 per person and Rp50,000 for foreigners (no, just kidding!). Jampit II is a company town, owned and controlled by a coffee cooperative which provides housing, schools and land for growing gardens. People, mostly Madurese, are friendly.
     
    Sempol village, just one kilometer from Jampit II, has one long main street of shops where you can replenish supplies, though it’s best to buy beforehand in Bondowoso. Bring good shoes, warm clothes, water. The rainy season is November through March, the dry April-October.
     
    From Sempol, one kilometer from the Arabica Homestay, take an asphalt road 12 kilometers through a landscape of giant volcanic boulders and more coffee plantations, eventually giving way to cemara forests, green-colored rapids and waterfalls, arriving at Paltuding (1850 meters). From the parking lot and ranger’s office, it’s an hour and a half hike up to the crater (2360 meters).
     
    It’s possible to take a car with a high wheel-base from Paltuding down to Banyuwangi in about an hour by first driving to Licin (14 kilometers), then on to Banyuwangi (another 22 kilometers). Though just a two-kilometer section of this road is rocky and pitted, only a 4-W-D vehicle can make it up from Banyuwangi via Licin to Paltuding.
     
    Where to Stay
     
    The Arabica Homestay (tel. 086-812-107-424) in Jampit II is run by the locally-owned PTP Nusantara XII coffee processing plant, a compact model estate that jumps live out of the 19th century colonial-era postcard. It feels like you’re a guest in the home of the Dutch plantation manager.  Rates are Rp140,000 VIP, Rp105,000 Standard; free room for drivers. The idyllic gardens and sedate buildings reminds one of the West Java’s tea plantations in the Puncak, but neater and not nearly as crowded with visitors.  From the guesthouse, the cones of G. Ijen, swathed in clouds and jagged like a crocodile’s back, loom over the landscape. July and August are the harvesting months and the best time to take the coffee processing tour offered by the guesthouse (Rp50,000 per person).
     
    At Paltuding, the whole two-room Penginapan Kawah Ijen can be rented for Rp250,000 (or Rp125,000 per room). On the grounds of the Blawan coffee processing plant at the end of a spectacular forest road, there’s another basic penginapan (tel. 086-812-107-942) that rents rooms for Rp70,000 (two beds) and Rp90,000 (three beds).

    pandora_151

    • Member Resmi
    • Gold Member
    • *
    • Posts: 2308
    • SECRET AGENT
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #2 on: June 19, 2009, 11:14:59 AM »
  • Publish
  • http://widyawati.blogdetik.com/2008/12/10/perjalanan-menuju-kawah-ijen/

    Jatuh bangkit ke kawah ijen…
    Posted on 16 Oktober, 2008 by akbarindonesia

    Sebenarnya postingan dibawah ini bukanlah tulisan saya, namun tulisan dari Tosa yang telah diedit oleh Fitra. Crita di bawah ini merupakan kisah perjalanan kami menuju puncak gunung Ijen.

    Kamis 23 juli 2008 pagi berangkat dari Surabaya menuju kawah ijen bersama rombongan teman2 satu angkatan (Akbar, fitra, yudhi, farma, septian, yoga, haris) dan membawa 4 motor berboncengan. Kami berangkat dari kos2an jam setengah 9 pagi. Langsung saja kami menuju Sidoarjo, jalan di sana relatif tidak terlalu macet dan tentu saja melewati porong. Dalam benak kami pasti di sini kami mendapatkan kemacetan, dan luar biasanya jalanan porong pada saat itu sepi tidak seperti biasanya.

    Lalu kami langsung menuju Pasuruan untuk selanjutnya kami menuju Probolinggo. Jalan antar kota seperti biasa sangatlah lapang sehingga kami bisa meng”geber” sepeda kami sampai 80 / 90 km per jam. Keluar dari probolinggo kami menuju situbondo. Kami sempat mampir sebentar di Paiton hanya untuk sekedar foto2 (mumpung masih muda…ha ha ha…), lumayan agak lama juga.


    Setelah itu kami melewati pantai Bentar dan sempat mampir untuk sholat Dhuhur di masjid di dekat situ dan Pasir putih. Di probolinggo terdapat lumayan banyak obyek wisata yang bisa di kunjungi seperti arung jeram di sungai Pakelan tapi kami hanya bertujuan ke Kawah Ijen. Dari Probolinggo kami menuju Situbondo dan mampir sebentar di masjid untuk sholat ashar setelah itu kami menuju ke rumah saudara salah satu teman kami, karena memang berniat menginap di rumah saudara teman kami tersebut yang mempunyai rumah di dekat kawah ijen.

    Kemudian kami langsung melanjutkan ke Bondowoso menuju rumah saudara teman kami tersebut. Penduduk di daerah sana sangatlah ramah. Tiap kali saya atau teman kami mengajak ngobrol selalu di ajak untuk mampir ke rumah penduduk tersebut. Sungguh perilaku yang sudah sangat jarang bahkan tidak ada di kota2 besar seperti Surabaya. Udara di sini sangatlah segar. Kami sampai di Bondowoso ini sekitar jam setengah 5 sore. Segera saja kami membersihkan dan mempersiapkan diri (tidur maksudnya…) untuk berangkat ke Ijen ke esokan harinya.

    Kalau anda tidak mempunyai sanak saudara di sini sebaiknya langsung saja menuju Ijen. Di sana juga tersedia penginapan yang harganya relatif murah sekitar 60 sampai 100 ribu tapi tidak pakai AC karena udara di Ijen kan sudah dingin, terlalu dingin malah. Disana juga tersedia warung makan. Jam setengah 3 kami bangun. Minum segelas kopi dan berangkat. Jam 3 kami berangkat menuju Kawah Ijen. Jalan menuju Ijen sungguh dahsyat dan mengerikan, banyak sekali jalanan rusak di sana sini dan itu tidak dalam keadaan jalan datar tetapi dalam keadaan jalan naik.

    Jadi anda harus dapat menguasai kendaraan dan medan. Sempat saya pikir kalau jalanan akan seperti ini sampai Ijen, ternyata tidak setelah jalan rusak tadi kami masih bisa menemui jalanan aspal halus lalu jalanan rusak lagi, begitu seterusnya sampai Ijen. Setelah melewati pos pertama kami sampai di sempol dan mampir untuk sholat shubuh. Di pos pertama kami harus ijin (menulis nama salah satu dari kami dan menunjukkan tanda pengenal) untuk masuk kawasan Ijen dan membayar uang retribusi 5 ribu. Dari Sempol menuju Paltuding jalanan tidak seperti saat sebelum menuju Sempol tadi.

    Dari Paltuding langsung saja kami mengebut menuju Ijen karena kami ingin melihat sunrise. Karena kami berangkat pada malam hari kami sebenarnya bisa sampai Ijen sekitar jam 5, tetapi kami terlalu ngebut sehingga papan penunjuk Kawasan Ijen pun tidak kami lihat dan terus saja mengendarai sepeda kami. Sampai pada saat mengendarai sepeda,salah satu rombongan kami mengalami kecelakaan karena ban belakangnya selip. Untung saja tidak terjadi apa2 dan hanya luka sedikit karena teman kami jatuh tepat di atas rerumputan. Karena kami berpikir kalau kami sudah nyasar terlalu jauh, kami pun bertanya pada orang yang kebetulan berada di situ (karena jalanan di sana sangatlah sepi) dan memang kami nyasar.

    Akhirnya kami putar balik dan sampai juga di Ijen. Sebelum pendakian kami makan terlebih dahulu lalu mendaki gunung Ijen sejauh 3 KM menanjak. Lama pendakian tergantung fisik anda. Kami tiba di puncak Kawah Ijen jam setengah 9 (tiba di Kawasan Ijen jam 7). Selama pendakian dan di Kawasan Ijen kami merasa seperti Turis Asing karena di sini sangatlah banyak dan jarang dan bahkan pada waktu kami kesana tidak ada orang Indonesia di sana kecuali penambang.

    Pemandangan di sana sungguh Luar biasa. Sayang perut saya sakit dan salah satu teman kami phobia ketinggian,sehingga tidak bisa lama2. Setelah mengambil banyak foto kami pun turun. Saya mendahului teman2 saya karena ya itu tadi. Kami juga tidak bisa melihat orang menambang batubara di sana. Kami pulang menuju rumah saudara teman kami jam setengah 1 dan kamipun tidak sholat Jumat (Bagus…!!!).

    Kami baru pulang menuju Surabaya ke esokan harinya karena kaki kami rasanya capek sekali. Saran saya apabila anda hendak menuju Kawah Ijen sebaiknya persiapkan keberangkatan anda dengan rinci dan lengkap karena kalau tidak akan sangat rugi, bawalah air minum secukupnya dan agak banyak untuk persiapan pendakian.


    DIarsipkan di bawah: My Life | Tagged: hiking, indonesia, jawa timur, My Life, pariwisata, pegunungan, pendakian

    pandora_151

    • Member Resmi
    • Gold Member
    • *
    • Posts: 2308
    • SECRET AGENT
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #3 on: June 19, 2009, 11:16:09 AM »
  • Publish
  • Etape ketiga : Mojokerto – Pasuruan – Probolinggo – Bondowoso – Ijen = 255km

    Selasa, 11 Juli 2006

    Pagi ini saya bangun dengan agak lebih bersemangat, karena sasaran misi pertama yaitu ke Ijen sudah semakin dekat, yang kedua jarak yang harus saya tempuh hari ini tidak sepanjang hari-hari sebelumnya artinya jika semua beres maka kami bisa sampai tempat tujuan saat matahari masih terang, tidak seperti sebelum-sebelumnya dimana selalu masuk tempat yang dituju pada saat hari sudah gelap.

    Pukul 08.30 saya keluarkan Mat Item Scorpioku yg tampangnya sudah makin dekil dari teras kamar dan kemudian bersama arif menungganginya untuk memulai etape ketiga saya. Hari ini saya harus mengambil arah ke Gempol kemudian ke arah Pasuruan dan Probolinggo. Untungnya tidak sulit untuk keluar dari Mojokerto untuk menuju kota tujuan berikutnya, disini peranan rambu penunjuk jalan sangat membantu kami.

    Mungkin karena masih diseputaran Kota Surabaya yang merupakan jantung perekonomian Jawa Timur, maka lalu lintas di Mojokerto – Gempol ini terasa padat dan aktif sekali pagi itu, truk-truk lalu lalang berjejalan dengan bis penumpang maupun angkutan kota yang isinya padat oleh penumpang terasa sekali geliat aktifitas kota besarnya. Padahal suasana yang saya sukai adalah suasana pedesaan, dimana waktu seakan berjalan melambat, tenang, tentram dan mengalir alami penuh kedamaian, tidak ada rush hour, tidak ada ketergesa-gesaan.

    Makanya senang sekali saya ketika kami akhirnya bisa meninggalkan semua kesibukan dan kepadatan tersebut, setelah sarapan di Pasuruan kami sekarang berada di jalur Pasuruan – Probolinggo yang jauh lebih lengang dibanding jalur Mojokerto – Gempol. Jalanan berupa aspal mulus dan baik. Truk-truk pengangkut tebu banyak sekali kami jumpai dijalanan. Demikian juga dengan kebun2 tebunya kalau melihat ini semua rasanya memang sepantasnya kita tidak perlu impor gula ya.....; rasanya memang ada yang salah pada kebijakan pertanian dan perdagangan kita.....mungkin para menteri ini mesti lebih sering solo turing naik motor liat langsung kondisi kebun2 tebu kita kali ya....hehehe

    Dijalanan saya juga sering kali menjumpai iring-iringan sepeda onthel yang mengangkut sisa-sisa daun tebu, entah untuk apa? mungkin untuk pakan ternak mereka kali ya. Iring-iringan sepeda onthel pengangkut daun tebu ini memberikan nuansa yang lain di jalanan luar kota ini, sebuah kombinasi yang kontras dengan truk-truk pengangkut tebu yang dengan angkuh menderu dijalanan melambangkan modal kuat dan modernitas sementara si sepeda cerminan alat angkut traditional, tua reyot tapi arif dan bijak – gak bikin polusi soalnya.......

    Kontur jalanan Pasuruan – Probolinggo – Paiton ini adalah datar, sejajar pantai utara jawa timur, karena konturnya yang datar dan relatif terbuka serta tepi pantai maka terpaan angin sangat kuat saya rasakan, beberapa kali mat item yang saya pacu di 80kpj, bergeser dihantam terpaan angin dari samping. Apalagi saat itu adalah musim kemarau hembusan anginnya terasa kering, jam saat itu sekitar pukul 11.00 an kebayangkan panasnya.......

    Barulah pas di PLTU Paiton jalannya berubah naik turun dan berliku-liku melintasi punggung perbukitan dengan tumbuhan hutan jati. Pemandangan di paiton ini cukup indah karena dari atas perbukitan kita bisa melihat ke laut lepas.

    Besuki adalah kota yang kami kunjungi setelah paiton lewat, dimana dari kota Besuki ini kami mengambil arah ke selatan menuju kota Bondowoso. Besuki sendiri berjarak 72 km dari Probolinggo sedangkan untuk menuju Bondowoso masih harus menempuh jalan sejauh 28 km, dengan melewati perbukitan hutan jati. Di Besuki ini banyak ditanam orang tembakau, konon tembakau Besuki cukup dikenal.

    Perbukitan hutan jati yang akan kami lalui untuk menuju Bondowoso ini sangat terkenal dengan panoramanya yang indah, nama daerah ini adalah Arak-Arak, dan kenyataannya memang panoramanya sangat indah. Jalannya yang mulus naik turun berkelok-kelok menyusuri punggung perbukitan hutan jati yang meranggas di musim kemarau sangat tidak membosankan. Mata ini seperti dimanjakan dengan pemandangan yg segar, jauh dari pemandangan hutan beton Jakarta.

    Kalau kami menyempatkan diri berhenti di arak-arak bukan semata karena lelah melainkan ingin menikmati pemandangan lebih lama sambil minum air kelapa muda dingin.......uiiiiih nikmat dan segernya. Bayangkan dari atas perbukitan memandang ke dataran lepas dibawah sana, di siang terik dan disemiliri angin perbukitan sambil minum air kelapa muda......uuenak tenan rasanya pengen berlama-lama disana.

    Akhirnya kami lanjutkan perjalanan setelah mengambil beberapa foto panorama arak-arak tadi, Bondowoso tidak terlalu jauh lagi. Jalanan yang menurun menuju Bondowoso mempercepat kami tiba di kota tersebut, belum lagi pukul 13.00 ketika kami tiba di Bondowoso. Kami sempat bertanya jalan menuju ke kawah Ijen, dan ternyata jalannya mudah saja yaitu kami harus mengarah ke Situbondo, nanti sekitar 8 – 9 km setelah keluar kota Bondowoso ada pertigaan dengan penunjuk arah ke kawah Ijen.

    Benar saja setelah berjalan keluar kota Bondowoso sekitar 8 – 9 km kami jumpai papan rambu penunjuk arah dimaksud. Segera saja motor saya belokan ke arah jalur jalan yang menuju Ijen. Rute yang akan kami tempuh ini adalah Bondowoso – Sempol (53 km an) kemudian dari sempol ke Paltuding sekitar 7 km. Paltuding ini pos terakhir sebelum mendaki ke ijen sejauh 3 km.

    Jalanan menuju sempol ini pemandangannya khas jalanan luar kota di Jawa, dikiri kanan jalan ditanam orang pohon asam jawa, berkilo-kilometer pohon asam jawa ini berjajar rindang menaungi jalanan, membuat jalanan menjadi teduh. Kalau dilihat dari pokok batangnya yang cukup besar dan ranting daun serta buah asam jawanya yang begitu lebat, kelihatannya usia pohon asam jawa ini sudah puluhan tahun. Saat itu entah sedang musimnya berbuah atau tidak yang jelas banyak warga yang memunguti asam jawa yang berjatuhan, saya lihat bisa sampai satu karung asam jawa yang terkumpul. Terus terang saya salut dengan orang yang memberi ide untuk menanam asam jawa ditepian jalanan ini karena artinya dia punya visi yang jauh kedepan bahwa pohon ini akan bermanfaat bagi banyak orang kelak sekian puluh tahun mendatang.

    Pepohonan lain yang biasa ditanam orang dijalanan pedesaan atau jalan luar kota di pulau Jawa ini adalah pohon Kapuk Randu. Bentuk pohonnya khas dengan batang ranting yang satu-satu memanjang, kalau lagi musimnya buah kapoknya bergelantungan, kadang kapuk nya berterbangan ditiup angin.

    Sedangkan pohon beringin biasanya ditanam orang ditengah alun-alun kota-kota dijawa mungkin sebagai simbol pusat pemerintahan, tapi kalo kita lihat pokok beringin rindang ditengah areal persawahan biasanya sih itu pekuburan desa dan biasanya pohon kamboja mengelilingi si pohon beringin ini.

    Aspal mulus menuju sempol ini ternyata berakhir setelah bertemu simpangan dimana yang lurus menuju sumber wringin sedangkan yang menyerong ke kiri menuju sempol – ijen. Jalanan kali ini mulai tidak terlalu mulus, lubang di jalan berserakan, dibeberapa tempat aspalnya terkelupas, tapi masih bisa dilalui dengan enak sih. Jalanan juga tidak lagi datar seperti tadi tapi mulai berkelok-kelok menanjak.

    Pemandangan juga mulai berubah jika siang tadi kami disuguhi hutan jati yang meranggas, kini dihibur dengan keteduhan hutan pinus. Bener-bener pemandangan yang menyegarkan, apalagi sekarang AC alam mulai dinyalakan maksudnya udara mulai berubah menjadi udara sejuk pegunungan. Hmmm nikmatnya menghirup udara yang bersih dari polusi.

    Dihutan pinus ini kami berhenti sejenak untuk menikmati keteduhannya dan juga mengambil beberapa foto untuk dokumentasi perjalanan. Ketika lagi asik mengambil foto dari seberang jalan, tiba-tiba mat item yang saya parkir dengan standar samping, terjerembab.....gubraaakkk, helm saya yg ditaruh diatas tangki terpental dengan keras dan ngegelundung ditanah.....; Astaghfirulah....ada apa ini....kaget saya dengan kejadian tsb, segera saya berlari menghampiri mat item yang rebah ditanah, saya coba dirikan.....uuuh ampun berat banget, setelah dibantu Arif akhirnya mat item bisa saya dirikan lagi.....

    Saya perhatikan tempat saya tadi standar samping mat item,.....hmmm ternyata tanahnya empuk pantesan jatuh; berarti saya yang teledor.....saya agak mangkel dengan kejadian tersebut, memang sih tidak ada kerusakan sama sekali....tetapi kenapa juga harus pake acara roboh kayak gitu.......namun setelah merenung lebih dalam saya bersyukur juga, untungnya acara robohnya mat item tidak pada saat kami tunggangi atau helm yg mental dan gelundungan ditanah itu untungnya pas tidak ada kepala saya didalam situ. Jadi tampaknya ini sih message dari yang Maha Kuasa supaya saya tetep hati-hati di jalan dan tetap bersyukur serta selalu mengingatNYA.

    Setelah kejadian tadi saya segera lanjutkan perjalanan, sampai akhirnya kami tiba di pos penjagaan PT. Perkebunan Nusantara XII (?), disini kami harus lapor ke pos penjagaan, seperti biasa menuliskan nama pengunjung, alamat, tujuan kunjungan dan jumlah rombongan, udah gitu boleh jalan lagi.

    Jalanan di kawasan perkebunan kopi ini sangat baik mulus dan terawat, beda sekali dengan jalan sebelumnya yang berada diluar kawasan perkebunan. Pemandangannya juga menarik kali ini kita disuguhi pemandangan hamparan kebun kopi dan kelihatannya sedang berbuah juga, terlihat dari kesibukan pekerja perkebunan dan beberapa pick up yang mengangkut karung-karung hasil kopi yg baru dipanen.

    Dikawasan perkebunan ini tampaknya juga diusahakan sebagai kawasan agro wisata, ini terlihat dari terdapatnya tiga lokasi hotel atau penginapan milik perkebunan ini masing-masing di Catimor-Blawan, Jampit I di Kalisat/jampit dan Jampit II juga di kalisat. Tadinya kami akan menginap disini, namun setelah mendapat keterangan bahwa di Paltuding juga ada penginapan maka saya memutuskan untuk menginap saja di Paltuding. Pertimbangan saya adalah karena tujuan saya yang utama ke wilayah Ijen ini adalah untuk mendaki Kawah Ijen, maka sebisa mungkin saya harus mendekat ke kawah Ijen, kalau saya menginap di daerah jampit-kalisat ini maka untuk ke Paltudingnya saja harus menempuh sekitar 10 km, sementara untuk ke kawah Ijen harus jalan kaki lagi sejauh 3 km.

    Dengan pertimbangan tersebut maka kami tidak mengunjungi lokasi penginapan yang dikelola perkebunan, melainkan langsung menuju ke paltuding. Setelah melewati pos yang kedua disini ritualnya juga sama melapor dan menulis dibuku tamu, maka akhirnya kami melewati pos ketiga dan terakhir disini lagi-lagi melapor dan menulis di buku tamu. Setelah melewati pos yang ketiga ini artinya kami sudah keluar dari kawasan perkebunan dan menuju ke Paltuding, jalanan masih tetap mulus, naik turun dan berliku tapi agak lebih sempit dibanding jalan didalam kawasan perkebunan, pemandangannya tidak perlu diragukan; indah tenaan........kalau saja bawa handycam mungkin pemandangannya bisa terekam lebih sempurna......

    Setelah melewati beberapa tanjakan yang cukup panjang dan tinggi, kami tiba di Paltuding pos terakhir sebelum mendaki Kawah Ijen, pos ini berada diketinggian 1850m dpl (diatas permukaan laut). Semua kendaraan yang ingin ke kawah ijen berhenti disini, tersedia lapangan parkir yang luas (cukup banget kalo buat kopdar para biker...hehehe), camping ground dan beberapa bangunan penginapan, kemudian juga ada beberapa warung dan tentunya bangunan-bangunan kantor pengelola daerah wisata ijen. Kalau tidak salah dikelola oleh Pelestarian Hutan dan Perlindungan Alam (PHPA?) Taman Nasional Alas Purwo, wah berarti cakupannya luas juga pengelola ini, soalnya Alas Purwonya sendiri berada di Blambangan letaknya.

    Uuuh lega sekali rasanya sudah sampai di Paltuding, Setelah memarkir mat item, sambil melakukan peregangan saya ambil nafas dalam-dalam mengisi rongga dada ini dengan udara bersih pegunungan di ketinggian 1800m dpl....wuih seugeeer nya.... mana udaranya sejuk banget lagi, Suasananya tenang tidak banyak orang yang ada di paltuding saat itu maklum jam saat itu menunjukan pukul 15.30, matahari sore pun masih bersinar terang tapi tidak terasa panas sama sekali soalnya kalah dengan sejuknya udara.

    Saya melapor ke kantor pengelola sekaligus mencari penginapan, petugas menerima kami dengan ramah, mereka geleng2 kepala keheranan ketika tau kami dari jakarta dengan mengendarai motor. Dari petugas tersebut kami ditawari dua jenis penginapan ada yang Rp 135.000 per kamar/malam ada juga yang Rp 65.000,- semua fasilitasnya sama kamar mandi di luar, dan tidak ada tivi maklum listriknya juga pake genset. Saya pilih yang Rp 135.000,- karena saya lihat viewnya lebih enak yaitu menghadap ke arah camping ground dan kayaknya lebih nyaman (padahal sih sama aja bangunannya sederhana rumah panggung semi permanen dengan dinding papan hehehehe namanya juga penginapan untuk pecinta alam, jadi jangan dibayangkan atau dibandingkan dengan penginapan seperti disebuah resort ya.....).

    Yang unik motor saya disuruh masukan kedalam kantor pengelola, saya lihat memang motor-motor dinas si petugas juga dimasukan dalam kantor tersebut, mungkin untuk keamanan di malam hari kali ya. Apa iya ada maling yg jauh2 dateng ke paltuding buat maling motor ya?.....batin saya ketika mendorong mat item untuk dimasukan ke dalam kantor pengelola. Sambil memasukan mat item saya lirik trip meter Mat Item, menunjukan angka 1.133 km......hmm sudah hampir separuh perjalanan yang kami tempuh dan sejauh ini lancar semua Alhamdulillah...............

    Setelah unpacking barang bawaan kami dan kami taruh dikamar, saya dan arif pun melakukan orientasi lapangan seputaran paltuding ini khususnya adalah untuk menemukan posisi warung makan, soalnya belom makan siang karena keasyikan jalan melihat panorama yang indah, terakhir kali perut diisi air kelapa di arak-arak siang tadi. Untungnya tidak sulit menemukan warung tersebut memang hanya warung kecil yg sederhana, menjual mie rebus, mie goreng dan nasi goreng – tapi sangat vital artinya buat kami saat itu soalnya udah laper banget. Kami pesan nasi goreng dan telor mata sapi,.......benar2 kombinasi yang nikmat udara yang dingin perut yang lapar dan sepiring nasi goreng yg masih hangat dan segelas teh nasgitel (panas, legi dan kentel)...... kontan segera saja nasi goreng ini berpindah tempat dari piring kami kedalam perut kami yg kelaparan kemudian ditutup dengan seruput teh panas....ueenak tenan....(Arif nambah sepiring lagi nasi gorengnya......hehehe)

    Setelah santap siang yang kesorean, saya kumpulkan informasi dari petugas mengenai pendakian ke Kawah Ijen, menurut mereka pendakian paling bagus sih jam 03.00 pagi karena perjalanan kesana butuh waktu 1 – 1,5 jam supaya bisa lihat matahari terbit. Dan jalan menuju kesana cukup mudah karena hanya satu jalan tidak ada percabangan sehingga tidak mungkin kesasar.

    Bahkan menurut si petugas mendaki malam-malam untuk tanggal sekarang ini dimungkinkan karena saat ini bulan sedang bersinar penuh, dan cuaca terang karena musim kemarau. Kalau mendaki malam-malam bisa terlihat bara api dari sumber belerang di kawah ijen nya demikian penjelasan tambahan beliau.

    Mendaki malam-malam....uuh nggak deh, kalau yang dini hari jam 03.00 sih mau juga tuh....tapi apa mungkin bangun jam segitu.....hehehehe....kayaknya sih mission imposible deh.

    Setelah informasi terkumpul kami kembali ke kamar maksudnya mau istirahat tidur-tiduran, lho tapi koq makin dingin jadi ya selimutan deh..... tapi akhirnya bablas.......tidur beneran.....badan capek, perut kenyang udara dingin dan selimutan apalagi yang paling enak kalo tidak ber-hibernasi....(tidur panjang seperti beruang dimusim dingin).....hehehehe

    Saya terbangun jam 19.00, cahaya bulan menerobos masuk kamar dari kaca jendela yang kordennya sengaja saya buka, sinar bulan ini cukup kuat menerangi kamar kami yang tanpa penerangan – saya coba menyalakan lampu tapi tidak menyala, saya coba dengarkan dikeheningan malam itu dan memang tidak terdengar suara genset hmm mungkin karena terang bulan mereka tidak menyalakan gensetnya kali ya.... Udara dingin sekali saat itu, saya turun dari tempat tidur dan coba ambil jacket yang saya gantung di dinding papan untuk saya kenakan. Waaks jacketnya aja ternyata sudah menjadi dingin banget.....

    Segera setelah mengenakan jacket saya berjalan keluar menuju teras pondokan,....brrr udara dingin langsung menyergap saya begitu saya ada diluar. Pemandangan diluar indah sekali, benar kata petugas tadi sore bahwa malam ini terang bulan. Langit cerah dan bersih sekali bintang-bintan bertaburan, berkerlipan, sementara itu permukaan bumi bermandikan cahaya bulan, tidak gelap total tapi temaram....saya sapukan pandangan saya ke segala arah... suasananya hening damai dan indah sekali. Seandainya dinginnya tidak menusuk tulang ingin sekali saya berlama-lama berjalan bermandikan cahaya bulan......tapi dinginnya itu lho gak nahan banget.

    Akhirnya kembali berselimut dan ber hibernasi adalah pilihan yang saya ambil, karena tidak tahan dinginnya....”uuhh gimana mau mendaki jam 03.00 kalau seperti ini dinginnya.....besok pagi-pagi aja deh mendakinya kalau sudah terang aja dan sudah lebih hangat.”....begitu pikirku sambil meringkuk dibawah selimut meneruskan hibernasi ku...........zzzzzzzzzzzzzzz.....zzzzzzzzzzz


    bolang lugu

    • Moderator
    • Mania Member
    • *****
    • Posts: 881
    • SMB (setelan motor balap)
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #5 on: June 19, 2009, 11:26:25 AM »
  • Publish
  • ni dongen sblum bo2k y? :D
    kebanyakan orang memutuskan untuk GAGAL disaat dia tidak sadar bahwa sebentar lagi akan SUKSES...........


    refec™

    • Moderator
    • Mania Member
    • *****
    • Posts: 664
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #7 on: June 19, 2009, 06:29:44 PM »
  • Publish
  • kapan yah kesana
    brotherhood bukan hanya slogan

    jog74ris°

    • Member Resmi
    • Platinum Member
    • *
    • Posts: 7627
    • komunitas turu sore
      • www.jogjaris.multiply.com
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #8 on: June 20, 2009, 06:53:16 AM »
  • Publish
  • @TS : sabar ya kisanak

    denjol™

    • Member Resmi
    • Groupie Member
    • *
    • Posts: 1315
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #9 on: June 20, 2009, 08:49:52 AM »
  • Publish
  • mas pandora ngajak turing kita pada bulan agustus ke Bromo di alihkan tujuannya ke sawah ijen...
    kayaknya menarik banget..
    tp waktune cukup ora?? :redface:















    *wektu lan duid :(

    pandora_151

    • Member Resmi
    • Gold Member
    • *
    • Posts: 2308
    • SECRET AGENT
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #10 on: June 20, 2009, 11:50:43 AM »
  • Publish
  • Waktune cukup kang, Khan ono ilustrasi pengalaman dr mojokerto ke bondowoso. Ketemu nang pasuruan wae. Ora usah mampir suroboyo mandar tambah suwe. Penginapan 30k/ room isi 2 ranjang. Yen pengen irit maneh yo nge-camp. Ono panggonane bumi perkemahan. Bakul panganan yo uakeh. Malah wuenak. Pengalaman baru. Moso' slama iki turing turune nang njero omah.  :genit:

    http://4.bp.blogspot.com/_ObApHQruv9U/Rh3oeQ3PnXI/AAAAAAAAABs/2KkkhTMmczc/s1600/ijen-penginapan-pos-blog.jpg
    http://2.bp.blogspot.com/_ObApHQruv9U/Rh3opw3PnYI/AAAAAAAAAB0/3tlMdT2lOI4/s1600/ijen-tracking-blog.jpg

    Ayo digodok maneh. Gantian bikin rincian detail acara. Nang puncak gunung ijen ono pelataran uombo sak peng lorone lapangan bal2an. Lumayan gawe upacara bendera. Uakeh kancane. 8)

    jog74ris°

    • Member Resmi
    • Platinum Member
    • *
    • Posts: 7627
    • komunitas turu sore
      • www.jogjaris.multiply.com
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #11 on: June 20, 2009, 01:58:50 PM »
  • Publish
  • manut waelah..
    daripada diputus cintaku..





    *ngelirik dompet

    bolang lugu

    • Moderator
    • Mania Member
    • *****
    • Posts: 881
    • SMB (setelan motor balap)
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #12 on: June 20, 2009, 03:22:35 PM »
  • Publish
  • @Jaris
    Dopety kandel y?gush dilirik dunk,. qtau ko. ndak bikin iri,. he2,. :D
    kebanyakan orang memutuskan untuk GAGAL disaat dia tidak sadar bahwa sebentar lagi akan SUKSES...........

    pandora_151

    • Member Resmi
    • Gold Member
    • *
    • Posts: 2308
    • SECRET AGENT
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #13 on: June 22, 2009, 11:09:55 AM »
  • Publish
  • AYo keburu puasa romadhon lho  =))

    bolang lugu

    • Moderator
    • Mania Member
    • *****
    • Posts: 881
    • SMB (setelan motor balap)
    Re: kawah ijen yuk
    « Reply #14 on: June 22, 2009, 07:49:21 PM »
  • Publish
  • lbh asik lok puasa,. kn ngirit,g jajan,. he2,.
    kebanyakan orang memutuskan untuk GAGAL disaat dia tidak sadar bahwa sebentar lagi akan SUKSES...........

     


    Facebook Comments